Drawing the light

Senin, 27 Oktober 2014

SUSUNAN KABINET JOKOWI - JK

Ini adalah nama-nama Menteri Kabinet JOKOWI - JK

1. Menteri Sekretaris Negara                                      : Prof. Dr. Pratikno
2. Kepala Bappenas                                                    : Andrinof Chaniago
3. Menteri Kemaritiman                                              : Indroyono Soesilo
4. Menko Politik Hukum dan Keamanan                       : Tedjo Edy Purdjianto
5. Menko Perekonomian                                             : Sofyan Djalil
6. Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan        : Puan Maharani
7. Menteri Perhubungan                                              : Ignatius Jonan
8. Menteri Kelautan dan Perikanan                                : Susi Pudjiastuti
9. Menteri Pariwisata                                                  : Arief Yahya
10. Menteri ESDM                                                     : Sudirman Said
11. Menteri Dalam Negeri                                           : Tjahjo Kumolo
12. Menteri Luar Negeri                                             : Retno Lestari Priansari Marsudi
13. Menteri Pertahanan                                               : Ryamizard Ryacudu
14. Menteri Hukum dan Ham                                      : Yasonna H.Laoly
15. Menkominfo                                                         : Rudiantara
16. Menteri PAN dan Reformasi Birokrasi                    : Yuddy Chrisnandi
17. Menteri Keuangan                                                            : Bambang Brodjonegoro
18. Menteri BUMN                                                    : Rini M.Soemarno
19. Menteri Koperasi dan UMKM                                : Puspayoga
20. Menteri Perindustrian                                           : Saleh Husin
21. Menteri Perdagangan                                            : Rahmat Gobel
22. Menteri Pertanian                                                 : Amran Sulaiman
23. Menteri Ketenagakerjaan                                       : Hanif Dhakiri
24. Menteri PU dan Perumahan Rakyat                        : Basuki Hadimuljono
25. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan              : Siti Nurbaya
26. Menteri Agraria dan Tata Ruang                            : Ferry Musyidan Baldan
27. Menteri Agama                                                     : Lukman Hakim Saifudin
28. Menterni Kesehatan                                              : Nila F Moeloek
29. Menteri Sosial                                                       : Khofifah Indra Parawansa
30. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan anak           : Yohanan Yambise
31. Menteri Budaya Dikdasmen                                   : Anies Baswedan
32. Menristek dan Dikti                                              : M.Nasir
33. Menpora                                                                : Imam Nahrawi
34. Menteri PDT dan Transmigrasi                              : Marwan Jafar

Share:

Senin, 08 September 2014

MDT-DT Dilantik di Kantor Kemendagri

MDT-DT Dilantik di Kantor Kemendagri
DECKZWAR, TAMBOLAKA -- Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Gamawan Fauzi, akan melantik Markus Dairo Talu, S.H - Drs. Ndara Tanggu Kaha (MDT-DT) sebagai Bupati-Wakil Bupati Sumba Barat Daya (SBD) masa jabatan 2014-2019.
Pelantikan berlangsung di Gedung Sasana Bhakti Praja Lantai 3 Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jalan Medan Merdeka, Jakarta, Senin (8/9/2014).
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati SBD, Drs. Antonius Umbu Zaza, M.Si dan Wakil Ketua DPRD SBD, Jusuf Mallo, menyampaikan itu saat dihubungi Jumat (5/9/2014) sore. "Pelantikan MDT-DT harus berjalan karena ada perintah. Apalagi semua tahap sudah dilalui," tandas Jusuf Mallo.
Politisi Partai Demokrat ini menjelaskan, pada Jumat pagi ada rapat di Kemendagri, dihadiri Mendagri Gamawan Fauzi, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya. Selaku pimpinan DPRD SBD, Jusuf Mallo juga hadir. "Rapat itu, intinya membicarakan tentang protokoler, tata cara pelaksanaan pelantikan, berapa undangan yang hadir. Jadi, semua sudah ready (siap). Nanti hari Minggu (7/9/2014) gladi bersih," jelasnya.
Mengenai kehadiran anggota DPRD SBD, Jusuf Mallo mengatakan, semua diundang, namun karena pada tanggal 9 September 2014 akan ada pelantikan anggota DPRD SBD yang baru sehingga tidak mesti semua anggota DPRD SBD harus hadir.
"Paripurna pelantikan ini tidak perlu quorum. Yang penting ada unsur pimpinan dan anggota Dewan hadir," ujarnya.
Jusuf Mallo mengatakan, jika ketua DPRD SBD berhalangan hadir, maka dia siap memimpin paripurna pelantikan Bupati- Wakil Bupati SBD.
Plt Bupati SBD, Antonius Umbu Zaza, mengaku menerima dua telex dari Ditjen Otda. Telex Nomor T.131/53/3488/OTDA ditujukan kepada Gubernur NTT, Forkopimda NTT, Pimpinan DPRD SBD, Plt Bupati SBD dan Forkopimda SBD.   Isi telex tersebut, jelas Umbu Zaza, pelantikan MDT-DT dilaksanakan tanggal 8 September di Gedung Sasana Bhakti Praja Lantai 3 Kemendagri.
Telex kedua Nomor T.094/3487/OTDA, ditujukan kepada Gubernur NTT. Bunyi telex,  menindaklanjuti surat saudara Nomor Pem.131/304/II/2014 tanggal 11 Agustus 2014 hal pengambilan sumpah/janji Bupati-Wakil Bupati SBD yang intinya menyerahkan proses pelantikan MDT-DT sebagai Bupati-Wakil Bupati SBD masa jabatan 2014-2019 kepada Mendagri, bersama ini disampaikan: Memberitahukan kepada Gubernur NTT guna menugaskan Sekda NTT, Karo Pem dan kepada Plt Bupati SBD agar menugaskan Sekda SBD, Sekwan DPRD SBD dan memberitahukan kepada pimpinan DPRD SBD untuk hadir dalam rapat persiapan pelantikan pada hari Jumat (5/9/2014) pukul 09.00 WIB bertempat di ruang rapat Dirjen Otda lantai 8 Gedung F Kemendagri, Jalan Medan Merdeka Utara Nomor 7 Jakarta Pusat.
"Telex kedua ini saya terima Kamis jam 10 malam. Minta kami hadiri rapat yang digelar jam 9 pagi di Depdagri. Bagaimana bisa hadir karena dapat informasi jam 10 malam. Karena waktunya mepet sehingga tidak mungkin dapat alat transportasi, kecuali dari Kodi ke Tambolaka. Jadi, saya tidak hadir. Bukan karena saya tidak mau, tapi karena transportasi tidak ada," jelas Umbu Zaza.
                                              
Wajib Hadir
Mengenai pelantikan MDT-DT di Jakarta, Umbu Zaza mengatakan, akan menghadiri acara pelantikan. "Saya wajib hadir. Saya sedang upayakan tiket," ujarnya.
Ia menjelaskan, pada tanggal 9 September 2014 ada pelantikan anggota DPRD SBD periode 2014-2019. Selain itu, lanjutnya, ada kunjungan Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) bersama Pangdam Udayana dan Wakapolda Bali untuk melihat lokasi pembangunan radar di Kahale, Kodi.
"Saya upayakan agar dua kegiatan ini saya hadir," katanya.

Tindakan Dirjen Otda Provokatif
KETUA DPRD Kabupaten SBD, Yosep Malo Lende mengatakan, mendapat informasi dari Karo Tatapem Setda NTT,  Silvester Banfatin, bahwa ada undangan dari Dirjen Otda untuk menghadiri pertemuan pada Jumat pagi.
"Rapat itu dengan agenda persiapan pelantikan. Saya tidak hadir," kata Malo Lende, saat dihubungi Kamis (4/9/2014) malam.
Politisi PDI Perjuangan ini mengatakan, tidak mengetahui informasi tentang pelantikan MDT-DT di Kemendagri pada Senin (8/9/2014).   "Sama sekali saya tidak tahu. Setahu saya belum ada Keputusan Presiden (Keppres). Lalu apa rujukan Mendagri untuk melantik? Kalau ada Keppres dipublikasi, mana, jangan atur diam-diam di Kemendagri," tandas Malo Lende.
Malo Lende mengritik sikap Dirjen Otda. Menurutnya, apa yang dilakukan Dirjen Otda (Djohermansyah Djohan) merupakan tindakan provokatif. Malo Lende menegaskan, pihaknya saat ini fokus persiapan pelantikan anggota DPRD SBD periode 2014-2019 yang akan berlangsung tanggal 9 September 2014.

Pemprov Dapat Undangan
Pemprov NTT sudah mendapat pemberitahuan resmi terkait pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Sumba Barat Daya (SBD) dari Mendagri pada Jumat (5/9/2014). Sekda NTT, Frans Salem kepada Pos Kupang Jumat (5/9/2014) malam membenarkan sudah ada surat pemberitahuan dari Mendagri.
Ia mengatakan, surat pemberitahuan itu sekaligus undangan untuk menghadiri pelantikan itu.
"Sudah. Suratnya difax tadi. Tentang pelantikan bupati dan wakil bupati pada hari Senin. Ini pemberitahuan sekaligus mengundang hadir," ujarnya.
Ditanya apakah gubernur akan hadir, Frans  mengatakan, ia belum mengetahui apakah gubernur hadir pelantikan atau tidak. Yang jelas, lanjutnya, sebagai sekda ia tidak hadir pada tanggal itu karena ada kegiatan yang sudah terjadwal sebelumnya. "Saya ada kegiatan, saya belum tahu Pak Gubernur apakah hadir atau tidak," katanya.
Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, belum berhasil dikonfirmasi. Dihubungi melalui SMS, tidak ada balasan.

Sumber : klik disini.
Share:

Pose Bung Karno, Mitos, dan Sejarah Tak Rampung Patung Pancoran


Pose Bung Karno, Mitos, dan Sejarah Tak Rampung Patung Pancoran
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Patung Dirgantara atau yang lebih dikenal sebagai Patung Pancoran, di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan.

DeckzWarNews-Sosok lelaki berotot kekar dengan tangan terulur ke depan seolah menunjuk ke sebuah arah, akan terlihat jelas setiap orang melintasi jembatan layang di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan.
Berbalut awan putih atau langit senja, sosok setinggi 11 meter itu dengan tiang penyangga menjulang 27 meter tersebut, menjadi pemandangan yang sejenak mengalihkan perhatian dari sesaknya jalanan di kawasan ini. Orang-orang menyebutnya Patung Pancoran.
"Nama aslinya adalah patung Dirgantara," kata Hubertus Sadirin, ahli konservatori dari Balai Konservasi Dinas Pariwisata, Sabtu (6/9/2014). Patung ini dibuat oleh pematung Indonesia, Edhi Sunarso, pada 1964-1965.
Dibangun pada era pemerintahan Presiden Soekarno, papar Sadirin, patung ini dibangun untuk menunjukkan kekuatan, kepemimpinan, dan kemegahan Indonesia di udara, di dirgantara. Bila cermat diamati, lanjut dia, lokasi patung ini berada tepat di depan Markas Besar Angkatan Udara.
Pose Bung Karno
Namun, pembuatan patung tersebut juga melibatkan antara lain keluarga Arca Yogyakarta, perusahaan Pengecoran Patung Perunggu Artistik Dekoratif Yogyakarta pimpinan I Gardono, dan PN Hutama Karya dengan Sutami sebagai arsitek pelaksana.
"Model patung ini adalah Bung Karno (Soekarno, red). Beliau memeragakan pose-nya. Namun, wajah patungnya adalah Pak Edhi," tutur Sadirin.
Patung Pancoran dibuat dengan bahan perunggu. Adapun tiang penyangganya berbahan beton. Total bobot patung ini mencapai 11 ton. Dengan bahan tersebut, biaya pembuatannya pun tak murah tetapi Sadirin tak bisa menyebutkan nominal biaya yang tepat.
Sekalipun memiliki filosofi dan makna yang positif serta harapan tinggi akan kedirgantaraan Indonesia, proses penyelesaian patung sempat terkendala peristiwa G30S pada 1965. Apalagi, saat itu kondisi kesehatan Bung Karno juga terus menurun. "Ini adalah patung terakhir yang digagas ide cemerlang dan idealisme Bung Karno."
Mitos ujung jari
Beragam mitos pun membalut patung ini, salah satunya adalah mitos ujung jari. Patung ini berdiri menghadap utara. Jarinya pun menunjuk ke arah yang jauh.
Arah jari menunjuk tersebut diyakini oleh sebagian kalangan sebagai penunjuk lokasi kekayaan rahasia milik Bung Karno. Namun, kalangan lain berpendapat arah telunjuk itu mengarah ke Pelabuhan Sunda Kelapa.
Ada pula yang berpendapat ujung jari ini merupakan perlambang sapaan dan sambutan bagi orang-orang yang baru tiba di Jakarta melalui Bandara Halim Perdana Kusuma.
"Mitos itu bukan berdasar kajian ilmiah," tegas Sadirin. "Pak Edhi sendiri sempat cerita kalau tidak ada indikasi seperti itu. Patung ini kan adanya di belakang markas AU jadi ya gambarannya untuk memimpin penerbangan Indonesia agar lebih maju," papar dia.
Patung yang tak rampung
Sadirin mengungkap satu hal lagi yang tak banyak diketahui publik. "Patung ini sebenarnya belum jadi. Sampai sekarang."
Bila dilihat dari kejauhan, kata Sadirin, patung ini seolah sudah sempurna dan tak beda dengan patung karya Edhi lainnya. Patung lain itu antara lain patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.
Namun, lanjut Sadirin, bila diamati lebih dekat, patung Pancoran akan terlihat permukaannya masih kasar dan kentara banyak tambalan las penyambung satu bagian dengan bagian lain.
"Dulu, ketika membuat patungnya, pak Edhi mengumpulkan semua barang-barang yang terbuat dari perunggu kemudian dilebur, dan beberapa bagian lainnya disambung. Makanya kesannya jadi kasar," papar Sadirin.

Meski menyebut patung itu belum rampung, Sadirin mengatakan tak ada rencana untuk merampungkan patung itu. "Karena dari awal sudah begini maka kami hanya menjaga cagar budaya ini sesuai bentuk aslinya," kata dia.
Selain belum rampung, patung yang satu ini juga ternyata tak pernah diresmikan. Saat patung sudah berbentuk seperti sekarang, Bung Karno telah meninggal.
"Rencananya, setelah patung dibersihkan, kami akan membuat laporan sekaligus mengajukan gagasan untuk meresmikan patungnya," kata Sadirin. "Ini kan benda cagar budaya. Jadi akan lebih baik kalau diresmikan."

Sumber : klik disini.
Share:

Selasa, 03 Desember 2013

IKLAN LIFEBOUY MELECEHKAN & MENGEKSPLOITASI KEMISKINAN DI NTT

"Belilah sabun Lifebuoy supaya kita menolong anak2 NTT bisa merayakan ulang tahun ke 5 mereka".

Iklan ini sungguh tidak menghargai harkat dan martabat masyarakat NTT. Kami, Rakyat NTT, minta iklan Lifebuoy yg bernaung dibawa perusahaan Unilever, segera menghentikan iklan itu. Hentikan pula semua upaya mengeksploitasi kemiskinan NTT untuk kepentingan bisnis dan politik apa pun. Apa benar semua anak NTT terancam mati sebelum berusia 5 tahun? Apa benar Lifebuoy yg membuat saya bisa merayakan ulang tahun ? Apa benar hanya Lifebuoy yang peduli .
NTT memang miskin tapi tdk pernah ada pengamen,pengemis,kemacetan,tdr d kolong jembtan, dsb.
Barenti pake sabun lifeboy >:O
Share:

Rabu, 14 Agustus 2013

PAHLAWAN NASIONAL INDONESIA



1.      RADEN AJENG KARTINI
Lahir 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah, Hindia Belanda, meninggal 17 September 1904 (umur 25) di Rembang, Jawa Tengah, Hindia Belanda
Nama Panggilan Raden Ayu Kartini dikenal karena Emansipasi wanita. Beragama Islam putri dari Pasangan R.M.A.A. Singgih Djojo Adhiningrat dan Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ajeng Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

2.      PATTIMURA

Kapitan Pattimura (lahir di Hualoy, Hualoy, Seram Selatan, Maluku, 8 Juni 1783 – meninggal di Ambon, Maluku, 16 Desember 1817 pada umur 34 tahun), memiliki nama asli Thomas Matulessy atau Thomas Matulessia.
Pattimura, lahir di Saparua.Ia adalah putra Frans Matulesi dengan Fransina Silahoi. Adapun dalam buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit, M Sapija menulis, "Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau merupakan nama orang di negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan".



3.      CUT NYAK DHIEN

Cut Nyak Dhien (ejaan lama: Tjoet Nja' Dhien, Lampadang, Kerajaan Aceh, 1848 – Sumedang, Jawa Barat, 6 November 1908; dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh.


4.      PANGERAN DIPONEGORO


Pangeran Diponegoro (lahir di Yogyakarta, 11 November 1785 – meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Januari 1855 pada umur 69 tahun) adalah salah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia. Makamnya berada di Makassar.
Diponegoro adalah putra sulung Hamengkubuwana III, seorang raja Mataram di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dari seorang garwa ampeyan (selir) bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan. Pangeran Diponegoro bernama kecil Raden Mas Ontowiryo.

 
5.      PANGERAN ANTASARI

Pangeran Antasari (lahir di Kayu Tangi, Banjar, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, 1797[2] atau 1809[3] – meninggal di Bayan Begok, Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah, 11 Oktober 1862 pada umur 53 tahun) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia.
Ia meninggal karena penyakit paru-paru dan cacar di pedalaman sungai Barito, Kalimantan Tengah. Kerangkanya dipindahkan ke Banjarmasin dan dimakamkan kembali di Taman Makam Perang Banjar Banjarmasin Utara, Banjarmasin. Perjuangan beliau dilanjutkan oleh puteranya Sultan Muhammad Seman dan mangkubumi Panembahan Muda (Pangeran Muhammad Said) serta cucunya Pangeran Perbatasari (Sultan Muda) dan Ratu Zaleha.



6.      SULTAN HASANUDDIN

Sultan Hasanuddin (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 – meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670 pada umur 39 tahun) adalah Raja Gowa ke-16 dan pahlawan nasional Indonesia yang terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Setelah memeluk agama Islam, ia mendapat tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, hanya saja lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin saja. Karena keberaniannya, ia dijuluki De Haantjes van Het Oosten oleh Belanda yang artinya Ayam Jantan/Jago dari Benua Timur. Ia dimakamkan di Katangka, Makassar.
Ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden No. 087/TK/1973, tanggal 6 November 1973
.

7.      TUANKU IMAM BONJOL

Tuanku Imam Bonjol (lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat, Indonesia 1772 - wafat dalam pengasingan dan dimakamkan di Lotak, Pineleng, Minahasa, 6 November 1864), adalah salah seorang ulama, pemimpin dan pejuang yang berperang melawan Belanda dalam peperangan yang dikenal dengan nama Perang Padri di tahun 1803-1838.[1] Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973.



 8.      SISINGAMANGARAJA XII

Raja Sisingamangaraja XII (Bangkara, Tapanuli, 1849 – Simsim, Tano Batak, 17 Juni 1907); bergelar Ompu Pulo Batu adalah seorang penguasa di daerah Tapanuli, Sumatra Utara pada akhir abad ke-19. Dia wafat pada 17 Juni 1907 saat membela diri dari serangan pasukan Belanda. Makamnya berada di Soposurung, Balige setelah dipindahkan dari Tarutung. Nama Sisingamangaraja berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti singa dan mangaraja (maharaja).

9.      TEUKU UMAR

Teuku Umar dan pengikutnya (gambar oleh G. Kepper, 1900)
Teuku Umar (Meulaboh, 1854 - Meulaboh, 11 Februari 1899) adalah pahlawan kemerdekaan Indonesia yang memimpin perang gerilya di Aceh semasa Pendudukan Belanda. Ia gugur saat pasukan Belanda melancarkan serangan mendadak di Meulaboh. Jenazahnya dimakamkan di daerah Mugo.
 
10.  MARTHA CHRISTINA TIAHAHU

Martha Christina Tiahahu (lahir di Nusa Laut, Maluku, 4 Januari 1800 – meninggal di Laut Banda, Maluku, 2 Januari 1818 pada umur 17 tahun) adalah seorang gadis dari Desa Abubu di Pulau Nusalaut. Lahir sekitar tahun 1800 dan pada waktu mengangkat senjata melawan penjajah Belanda berumur 17 tahun. Ayahnya adalah Kapitan Paulus Tiahahu, seorang kapitan dari negeri Abubu yang juga pembantu Thomas Matulessy dalam perang Pattimura tahun 1817 melawan Belanda.
Martha Christina tercatat sebagai seorang pejuang kemerdekaan yang unik yaitu seorang puteri remaja yang langsung terjun dalam medan pertempuran melawan tentara kolonial Belanda dalam perang Pattimura tahun 1817. Di kalangan para pejuang dan masyarakat sampai di kalangan musuh, ia dikenal sebagai gadis pemberani dan konsekwen terhadap cita-cita perjuangannya.


11.  NYI AGENG SERANG

Nyi Ageng Serang bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi (Serang, Purwodadi, Jawa Tengah, 1752 - Yogyakarta, 1828) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah anak Pangeran Natapraja yang menguasai wilayah terpencil dari kerajaan Mataram tepatnya di Serang yang sekarang wilayah perbatasan Grobogan-Sragen. Setelah ayahnya wafat Nyi Ageng Serang menggantikan kedudukan ayahnya. Nyi Ageng Serang adalah salah satu keturunan Sunan Kalijaga, ia juga mempunyai keturunan seorang Pahlawan nasional yaitu Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara.

12.  UNTUNG SUROPATI

Untung Suropati (lahir: Bali, 1660 – wafat: Bangil, Jawa Timur, 5 Desember 1706) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang berjuang di Pulau Jawa. Ia telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975.

 13.  DEWI SARTIKA

Dewi Sartika (lahir di Bandung, 4 Desember 1884 – meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966.

14.  KI HADJAR DEWANTARA

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, EYD: Ki Hajar Dewantara, beberapa menuliskan bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar Dewantoro; lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 – meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun[1]; selanjutnya disingkat sebagai "Soewardi" atau "KHD") adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.



15.  SOEKARNO

Presiden Indonesia ke-1
Ir. Soekarno1 (ER, EYD: Sukarno) (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 6 Juni 1901 – meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun) adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945–1966.[1] Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda.[2] Soekarno adalah penggali Pancasila karena ia yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai dasar negara Indonesia itu dan ia sendiri yang menamainya Pancasila.[2] Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945.


16.  MOHAMMAD HATTA

Dr.(H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta (populer sebagai Bung Hatta, lahir di Fort de Kock, Sumatera Barat, 12 Agustus 1902 – meninggal di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah pejuang, negarawan, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Bandar udara internasional Jakarta menggunakan namanya sebagai penghormatan terhadap jasanya sebagai salah seorang proklamator kemerdekaan Indonesia.

Share:

Mengenai Saya

Foto saya
Hidup adalah sebuah perjuangan. Hadapilah dengan semangat. Hiduplah dengan semarak.

Weapon

Weapon

Theme Support