TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Fachrizal
Ahmad Sumardjono, tersangka otak pembobol server pulsa elektrik
Telkomsel saat ditemui Tribunnews.com di Bareskrim Polri, Jakarta
Selatan, bercerita bagaimana dia dapat membuka sever operator terbesar
di Indonesia. Bersama Ahmad Hanafi, juga tersangka pembobol server itu,
ia bercerita butuh delapan bulan untuk mengotak-atik melalui internet
Rizal panggilan akrab Fahrizal menyebut dia bukan hacker atau peretas situs internet, melainkan seorang phreaker.
"Saya
hobi berat phreaking, karena saya bisa terus mendapatkan ilmu baru,
(dalam komunitas) saya paling tua atau senior," katanya ketika
berbincang.
Ia mengaku tidak memiliki ilmu khusus dari keilmuan
formalnya dalam bidang tekonologi informasi (IT), melainkan seorang
lulusan jurusan Geografi Unoversitasn Indonesia. Dari segi keilmuan,
pendidikan yang dia tempuh dengan pembobolan server TElkomsel tidak ada
hubungannya.
"Saya belajar otodidak. Belajar phreaking sejak dari 2006 hingga sekarang," ujar pria bekulit putih ini.
Rizal
menguraikan perbedaan phreaker dengan hacker dan cracker. Nama phreaker
masih jarang terdengar. Phreaker mirip dengan cracker, sama-sama
menyukai gratisan. Bedanya Phreaker lebih fokus ke dalam bug
jaringan/telekomunikasi.
Contoh mudahnya orang bisa menelpon
gratis padahal seharusnya berbayar, atau contoh lainnya seseorang
menggunakan bug yang ada di dalam sebuah perusahaan telekomunikasi
(meskipun tidak diketahui bocornya informasi ini hasil sendiri atau
diberi tahu orang dalam) itu adalah salah satu kegiatan phreaking dan
orang yang melakukannya disebut phreaker.
Hacker dikesankan
merusak situs yang diretas, walau umumnya tidak demikian. Mereka
kebanyakan mencari informasi/data penting tingkat tinggi bukan untuk
mencuri/kesenangan, tapi cenderung untuk mengetes, system yang sedang
mereka hadapi.
Sementara cracker dikategorikan sebagai orang yang
memahami jenis pemrograman tingkat tinggi dan sedikit pengetahuan
jaringan. Umumnya cracker membuat kemampuan untuk membuat sebuah program
untuk meng-disfungsikan/me-manipulasi jalur yang seharusnya. Contohnya,
cracker membuat sebuah program agar program yang seharusnya berbayar
menjadi gratis. Cracker tidak terlalu memahami seluk-beluk jaringan
mereka kebanyakan cenderung menyukai segala sesuatu yang bersifat
gratisan.
Rizal meneruskan, ia tidak mudah masuk ke server
Telkomsel meskipun pintunya sudah terbuka. Ia butuh delapan bulan untuk
mengotak-atiknya kembali. Sekitar bulan Juni dia merasa mentok, sampai
akhirnya mengajak teman sesama phreaking yang dikenalnya lewat
komunitas phreaking di internet. "Akhirnya saya memanggil Hanafi
(Mohammad Hanafi), Widyo (Dwi Yunianto Widyo Nugroho), dan Setya
(Perkasa)," kata dia.
Setelah itu, barulah mereka bisa membobol
server pulsa elektrik Telkomsel. "Saya masuk server tersebut tidak ada
motif untuk mencuri, tetapi saya penasaran saja. Uang itu masih ada di
rekening saya, tidak dikemana-manakan," ujarnya.
Sebelumnya
diberitakan, Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri menangkap
tujuh orang pelaku pembobol pulsa elektrik Telkomsel langsung melalui
server provider. Modus pencurian pulsa tersebut terendus setelah
Telkomsel mengaudit keuangan yang menunjukkan kejanggalan antara jumlah
pulsa dengan nominal uang yang diterima.
Kepala Divisi humas
Polri Irjen Pol Saud Usman Nasution menjelaskan komplotan tersebut
beraksi mulai dari 2010. Para pelaku, merupakan orang-orang yang mahir
dan paham seluk-beluk information technology (IT).
"Tersangkanya
ini orang yang melek IT, kalau orang seperti kita mungkin tidak bisa.
Mereka mencoba menjebol servernya," katan Saud di Mabes Polri, Jakarta,
Senin (9/1).
Saat mulai bisa membobol server pulsa elektrik
tersebut, para pelaku tidak langsung menjualnya, tetapi mereka melakukan
dahulu uji coba, apakah pulsa yang berhasil dicuri bisa digunakan atau
tidak. "Pertama kali pelaku menggunakannya untuk kepentingan pribadi.
Apakah benar bisa digunakan atau tidak. Ternyata setelah melakukan
percobaan berkali-kali akhirnya berhasil," kata Saud.
Kemudian
setelah behasil menjebol server penjualan pulsa elektrik, para pelaku
lantas mempromosikannya di kaskus dan pembeli pun mulai berdatangan.
"Kemudian kejahatan ini baru diketahui saat provider melakukan audit dan
melihat perbedaan antara jumlah pulsa dengan uang yang diterima,"
ucapnya.
Setelah menelusuri dan menyelidiki kurang lebih satu
bulan, polisi akhirnya menangkap tujuh pelakunya. Mereka semuanya
ditangkap di Jakarta. Ketujuh tersangka tersebut memiliki tugas
masing-masing, FA bertugas sebagai bobol server, AH berperan membantu FA
membobol server dan melakukan pencurian pulsa yang dijual kepada
langganan.
Ada pun MS membantu FA menjebol server dan yang
menyiapkan script untuk fasilitasi pencurian pulsa, SP membantu
melakukan penjebolan server, menyiapkan skrip, mencuri dan menjual
pulsa, DY berperan sebagai penjebol server, mencuri dan menjual pulsa,
IA berperan memasarkan pulsa, dan LK membantu AH menjual pulsa, menerima
dan menyimpan uang hasil penjualan pulsa elektrik masuk ke rekening.
Sumber : deckz bilang klik
disini.